gravatar

FACEBOOK




Facebook adalah sebuah situs web jejaring sosial populer yang diluncurkan pada 4 Februari 2004. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorangmahasiswa Harvard kelahiran 14 Mei 1984 dan mantan murid Ardsley High School.
Pada awal masa kuliahnya situs web jejaring sosial ini, keanggotaannya masih dibatasi untuk mahasiswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston CollegeUniversitas BostonMITTufts), RochesterStanfordNYU,Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti: .edu, .ac, .uk, dll) dari seluruhdunia dapat juga bergabung dengan situs jejaring sosial ini.
Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e apa pun dapat mendaftar di Facebook.[2] Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Hingga Juli 2007, facebook memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia.[3] Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi,[4] dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.[5][6]
Fitur hiburan dalam Facebook disebut aplikasi. Contohnya antara lain permainan video, kuis, dan lain sebagainya.
....................readmore

gravatar

Mengatasi Penyakit Dalih


Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajarpun terlewatkan begitu saja.
Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.
Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, "Kondisi fisik saya tidak sempurna", "Saya tidak enak badan", "Jantung saya lemah", dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati. Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Nonaparte memiliki postur tubuh yang sangat pendek. Dalih inteligensi diitandai dengan ucapan, "Saya kan tidak pintar", "Saya kan bukan rangking teratas", "Dia lebih pandai", dan sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa tidak perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses. Selanjutnya, dalih usia yang ditandai dengan ucapan, "Saya terlalu tua", "Saya masih terlalu muda", "Biarkan yang lebih tua yang duluan", dan sejenisnya. Padahal tidak ada batasan usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders memulai usahanya di usia 65 tahun.
Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan , "Aduh, nasib saya memang selalu jelek", "Itu sudah nasibku", "Itu memang takdir". Memang amat mudah untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib kita ditentukan oleh kita sendiri. Tuhan telah memberikan hidup dengan sejumlah pilihan.
Baru-baru ini, hati saya tertegun ketika menyaksikan siaran televisi tentang seorang anak kecil yang ahli memainkan drum dalam kebaktian rutin setiap minggunya pada sebuah gereja di Thailand. Titi, nama bocah yang baru berusia 3 tahun itu memang layak dijuluki "drummer cilik". Bertubuh mungil dengan 2 jari yang tidak sempurna, Titi yang masih suka nge-dot ini menunjukkan kebolehannya menabuh drum. Tak berlebihan jika banyak yang menyarankan agar ia dimasukkan dalam Guiness Book of Record.
Prestasi yang diraih Titi sungguh menggugah kesadaran saya. Lihatlah betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri daripada melakukan apa yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang layak diraih layak diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sayangnya, potensi diri ini kerap hanya terkubur karena kebiasan kita membuat dalih jika apa yang kita kerjakan tidak berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya tidak segera kelihatan. Gaya hidup modern yang serba instant secara tidak langsung membuat kita sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen sekali makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki dan merawat pohonnya.
Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan besar seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena dianggap lamban. Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran bahasa Yunani karena ingatannya yang lemah. "Tak peduli apa pun yang kamu lakukan, kamu takkan dapat melakukan apa-apa," kata gurunya. Guru lainnya menimpali, "Kamu Cuma merusak kelas saya!". Bahkan kepala sekolahnya mengatakan kalau Einstein tidak akan sukses dalam apa pun yang dikerjakannya. Saya juga teringat kepada Thomas Alva Edison yang hanya bersekolah beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar sepanjang jaman dengan lebih dari 1.000 hak paten. "Saya mempunyai banyak ide tapi hanya sedikit waktu," ujarnya. Edison gagal di sekolah. Gurunya merasa Edison tidak punya minat belajar, pemimpi dan mudah sekali terpecah konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya terharu adalah sikap Ibu Edison terhadap putranya. Ia terus mengajari Edison di rumah dan setiap kali Edison gagal, ibunya member harapan dan mendorongnya untuk terus berusaha.
Kalau orang gagal senantiasa berkata "itu tidak mungkin berhasil" maka orang sukses lebih suka berkata "mengapa tidak mencobanya dulu?". Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan.
E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal. Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore Roosevelt, "Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada."
Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari. ***
Sumber: Mengatasi Penyakit Dalih oleh Paulus Winarto. Paulus Winarto adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor Indonesia), yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa.
....................readmore

gravatar

Menjadi Manusia Baru Di Tahun Baru

The party is over. Pesta tahun baru sudah selesai. Pertanyaannya sekarang adalah; setelah semua kemeriahan itu, apa yang tersisa untuk menjadi bekal kita menjalani hari demi hari ditahun yang baru ini? Dan ngomong-ngomong, adakah hal esensial baru yang sungguh-sungguh kita miliki sehingga kita layak mengelu-elukan tahun baru itu? Jika kita masih menjadi pribadi yang tidak ada bedanya dengan tahun lalu, maka perayaan tahun baru tidak lebih dari sekedar euforia belaka. Sebab, hanya mereka yang berhasil menjadi manusia baru saja yang patut mengklaim kemeriahan tahun baru itu. Menjadi manusia barukah kita, atau sekedar terhanyut oleh kemeriahan semu belaka?

Dikampung saya dulu, ular merupakan binatang yang mudah ditemui. Tentu ada ular yang berbisa. Ada juga yang tidak berbisa. Ada ular pohon. Ular tanah. Dan juga ular air. Tetapi, dari perbedaan- perbedaan yang dimiliki oleh para ular itu, mereka memiliki satu kesamaan. Anda tahu persamaan diantara mereka itu? Tepat sekali, mereka para ular mengganti kulitnya setiap periode waktu tertentu. Dan disaat menjelang pergantian kulit itu, para ular pergi ketempat-tempat sunyi. Lalu disana mereka merenung, meninggalkan segala kenikmatan. Mereka tidak melakukan aktivitas lain selain berdiam diri, bagaikan para pertapa yang sedang bermeditasi. Ketika mereka selesai bermeditasi itulah bagian epidermis dari kulit-kulitnya terkelupas, sedangkan bagian dermis didalam tubuhnya naik kepermukaan menjadi epidermis yang baru. Mengapa ular mengganti kulit? Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa salah satu fungsi pergantian kulit bagi ular adalah demi mengakomodasi kebutuhan tubuhnya untuk tumbuh membesar. Jadi, ular yang berganti kulit itu tengah tumbuh untuk menjadi ular yang lebih besar, dan lebih matang. Ini berarti bahwa ular 'merencanakan' sesuatu untuk proses pertumbuhannya selama satu periode kedepan hingga tiba saatnya bagi dia untuk kembali berganti kulit.

Pertanda apakah gerangan ini bagi kita? Ini adalah isyarat yang menjelaskan bahwa pergantian tahun tiada lain adalah saat dimana kita selayaknya merenung dan merencanakan sesuatu untuk proses pertumbuhan selama satu periode kedepan hingga tiba saatnya bagi kita untuk kembali berganti tahun.

Ular tidak sekedar berganti kulit. Melainkan berganti kapasitas diri. Sebab, setiap periode pergantian kulit merupakan tanda atas 'kenaikan tingkat' bagi dirinya. Oleh karena itu, setiap ular yang berganti kulit, pastilah menapaki tingkatan hidup yang lebih tinggi dari sebelumnya. Apakah kita para manusia juga demikian? Dengan kata lain; adakah setiap pergantian tahun yang selalu kita elu-elukan itu menjadi tanda atas 'kenaikan tingkat' bagi kita?

Salah satu bukti dari kenaikan tingkat terlihat dari seberapa besar bobot 'hal baru' yang kita lakukan. Jika kita mengaku naik tingkat, namun semua yang kita lakukan tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan tahun lalu; maka kita patut mempertanyakan klaim itu. Tidak ada kenaikan tingkat, tanpa sikap yang baru. Jadi, tahun baru tidak berarti apa-apa bagi kita selain terbuangnya nilai waktu. Lalu, apa yang kita rayakan waktu itu? Jika ditahun yang baru ini, perilaku kita, sikap dan tindak tanduk kita tidak lebih baik dibandingkan tahun lalu; maka itu berarti bahwa kita telah keliru memaknai tahun baru.

Seperti sang ular yang berganti kulit demi pertumbuhan dirinya, maka seyogyanya tahun baru menjadi saat dimana kita memperbaharui segenap tekad dan komitmen penuh untuk menjadi manusia baru yang labih baik. Mengapa mesti begitu? Karena kita selalu meminta agar Tuhan menjadikan tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Namun, jika kita tidak mengubah apapun dari kehidupan kita; bagaimana mungkin kita mendapatkan hasil yang berbeda?

Memang, kadang-kadang kita juga meniru ular merencanakan sesuatu untuk dicapai ditahun yang baru ini. Kemudian kita menyebutnya sebagai resolusi. Keren, bukan?. Namun, meskipun setiap tahun kita
membuat resolusi, tetapi kita tidak pernah berani mengevaluasi seberapa berhasil kita mewujudkan resolusi-resolusi itu? Sebaliknya, kita sering sok bertoleransi dengan kenyataan yang jauh melenceng dari resolusi yang kita buat berkali-kali. Ular tidak demikian. Sebab, sesaat setelah dia membuat komitmen untuk berganti kulit; dia secara sungguh-sungguh menjalani hidupnya. Dia menanggalkan dan meninggalkan kulitnya yang lama. Dan menjelma menjadi ular baru.

Sungguh, seolah para ular hendak memberi contoh pada kita untuk menanggalkan 'baju-baju' lama kita. Yaitu, baju dalam bentuk perilaku-perilaku lama kita yang tidak bisa menunjang proses pertumbuhan diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dengan kata lain, kita diajak sang ular untuk menanggalkan setiap elemen buruk didalam diri kita; agar kita bisa menjadi manusia baru, ditahun yang baru ini.

Bisakah kita?

Catatan Kaki:
Ada banyak perilaku buruk menempel didalam diri kita. Jika kita berhasil menanggalkan satu hal buruk saja setiap hari, maka kita bisa
menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kehari.
....................readmore

gravatar

PARENT

SEDIKIT RENUNGAN BUAT KITA-KITA YANG MASIH MUDA ( YANG KELAK AKAN MENJADI TUA PULA... )

Suatu hari seorang sahabat saya pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha bersama dengan teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-orang yang kesepian dalam hidupnya.

Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.

Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya.

Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang. Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus.

Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan iaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.

Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukan nya.

Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.

Tapi apa yang saya dapatkan ? setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan.

Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita idalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau
plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?

Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan?

Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengana kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.

Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat - sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.

Sejak itu sahabat saya selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara dengan sang opa.

Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta anak-anaknya untuk berkunjung.

Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita.

Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian ?
Ingatlah bahwa tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan ada di dunia dan menjadi seperti ini.

Jika kamu masih mempunyai orang tua, bersyukurlah sebab banyak anak yatim-piatu yang merindukan kasih sayang orang tua.

Jika kamu menerima e-mail ini berarti masih ada orang yang peduli kepadamu untuk mengingatkan jasa kedua orang tuamu.

When was the last time you chat to your parent? THEY NEED YOU!
....................readmore

gravatar

Seorang Teman Baik

Sewaktu kita duduk di taman kanak-kanak, kita berpikir kalau seorang teman yang baik adalah teman yang meminjamkan krayon warna merah ketika yang ada hanyalah krayon warna hitam.

Di sekolah dasar, kita lalu menemukan bahwa seorang teman yang baik adalah teman yang mau menemani kita ke toilet, menggandeng tangan kita sepanjang koridor menuju kelas, membagi makan siangnya dengan kita ketika kita lupa membawanya.

Di sekolah lanjutan pertama, kita punya ide kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mau menyontekkan PR-nya pada kita, pergi bersama ke pesta dan menemani kita makan siang.

Di SMA, kita merasa kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mengajak kita mengendarai mobil barunya, meyakinkan orang tua kita kalau kita boleh pulang malam sedikit, mau mendengar kisah sedih saat kita putus dari pacar,

Di masa berikutnya, kita melihat kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu ada terutama di saat-saat sulit kita, membuat kita merasa aman melalui masa-masa seperti apapun, meyakinkan kita kalau kita akan lulus dalam ujian sidang sarjana kita.

Dan seiring berjalannya waktu kehidupan, kita menemukan kalau seorang teman yang baik adalah:

* teman yang selalu memberi kita dua pilihan yang baik
* merangkul kita ketika kita menghadapi masalah yang menakutkan
* membantu kita bertahan menghadapi orang-orang yang hanya mau mengambil keuntungan dari kita
* menegur ketika kita melalaikan sesuatu
* mengingatkan ketika kita lupa
* membantu meningkatkan percaya diri kita
* menolong kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik
* dan terlebih lagi... menerima diri kita apa adanya...


Thanks for being my friend...
....................readmore

gravatar

Manajemen Kemarahan

Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar.

Seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar; karena dia hanya tidak bisa marah.

Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar.

Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu-sulit, Anda sangat tepat; karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas.

Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat.

Perhatikanlah bahwa kita lebih sering menderita karena kemarahan kita, daripada karena hal-hal yang membuat kita merasa marah. Perhatikanlah juga bahwa kemarahan kita sering melambung lebih tinggi daripada nilai dari sesuatu yang menyebabkan kemarahan kita itu, sehingga kita sering bereaksi berlebihan dalam kemarahan.

Hanya karena Anda menyadari dengan baik –tentang kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi Anda dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apa pun yang membuat Anda merasa marah. Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itu lah yang menjadikan Anda tampil sabar.

Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu.

Nafsu adalah kekuatan yang tidak pernah netral, karena ia hanya mempunyai dua arah gerak; yaitu bila ia tidakmemuliakan,pasti ia menghinakan.

Nafsu juga bersifat dinamis, karena ia menolak untuk berlaku tenang bila Anda merasa tenang. Ia akan selalu memperbaruhi kekuatannya untuk membuat Anda memperbaruhi kemapanan Anda.

Maka perhatikanlah ini dengan cermat; bila Anda berpikir dengan jernih dalam memilih tindakan dan cara bertindak dalam kemarahan, nafsu itu akan menjadi kekuatan Anda untuk meninggalkan

kemapanan Anda yang sekarang -untuk menuju sebuah kemapanan baru yang lebih tinggi.

Tetapi, bila Anda berlaku sebaliknya, maka ke bawahlah arah pembaruan dari kemapanan Anda.

Itu sebabnya, kita sering menyaksikan seorang berkedudukan tinggi yang terlontarkan dari tingkat kemapanannya, dan kemudian direndahkan karena dia tidak berpikir jernih dalam kemarahan.

Dan bila nafsunya telah menjadikannya seorang yang tidak bisa direndahkan lagi, dia disebut sebagai budak nafsu.

Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda.

Kebijakan para pendahulu kita telah menggariskan bahwa untuk menjadi marah itu mudah, dan patut bagi semua orang. Tetapi, untuk bisa marah kepada orang yang tepat, karena sebab yang tepat, untuk tujuan yang tepat, pada tingkat kemarahan yang tepat, dan dengan cara yang tepat -itu tidak untuk orang-orang kecil.

Maka seberapa besar-kah Anda menginginkan diri Anda jadinya?

Memang pernah ada orang yang mengatakan bahwa siapa pun yang membuat Anda marah-telah mengalahkan Anda. Pengamatan itu tepat-hanya bila Anda mengijinkan diri Anda berlaku dengan cara-cara yang merendahkan diri Anda sendiri karena kemarahan yang disebabkan oleh orang itu.

Itu sebabnya, salah satu cara untuk membesarkan diri adalah menghindari sikap dan perilaku yang mengecilkan diri.

Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.

Perhatikanlah, bahwa orang tua yang sering marah kepada anak-anaknya yang bertengkar -adalah orang tua yang juga sering bertengkar dengan pasangannya.

Bila kita cukup adil kepada diri kita sendiri, dan mampu untuk sekejap menikmati kedamaian kita akan melihat dengan jelas bahwa kita sering menuntut orang lain untuk berlaku seperti yang tidak kita lakukan.

Dan dengannya, bukankah kemarahan Anda juga penunjuk jalan bagi Anda untuk menemukan perilaku-perilaku baik yang sudah Anda tuntut dari orang lain,tetapi yang masih belum Anda lakukan?

Lalu, mengapakah Anda berlama-lama dalam kemarahan yang sebetulnya adalah tanda yang nyata bahwa Anda belum memperbaiki diri?

Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah.

Bila Anda seorang pemimpin, dan Anda telah menerima tugas untuk meninggikan orang lain; maka tidak ada badai, gempa, atau air bah yang bisa membuat Anda mengurangi nilai Anda bagi kepantasan untuk mengemban tugas itu.

Ingatlah, bahwa orang-orang yang berupaya mengecilkan Anda itu-adalah sebetulnya orang-orang kecil.

Karena, orang-orang besar akan sangat berhati-hati dengan perasaan hormat Anda kepada diri Anda sendiri. Bila mereka marah pun kepada Anda, mereka akan berlaku dengan cara-cara yang mengundang Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sedangkan orang kecil? Orang-orang kecil membuat orang lain merasa kecil agar mereka bisa merasa besar.

Anda mengetahui kebesaran yang dijanjikan untuk Anda. Maka besarkan-lah orang lain.
....................readmore

gravatar

MENGHARGAI DIRI

DARI MILIS sorang pelaku MLM
Just Think…

Berangkat dari rumah jam 5.30, sampai di kantor bertemu dengan semua teman dan keluargaku. Mulai dari para security yang ramah dan penuh rasa hormat, sampai dengan para officce boy yang selalu siap untuk membantu kapanpun bagaikan serdadu perang yang hanya menunggu sepatah kata dari petingginya dan siap untuk mati memperjuangkannya. Sampai di ruangan bertemu dengan teman seperjuangan yang bahkan sudah bisa di bilang keluarga kedua selain yang di rumah ( ha... ha...ha... lucu bukan) and at the end kembali ke my lovely cubilcle yang sudah dua setengah tahun aku tempati…

Hari ini di mulai lagi dengan kegiatan rutinitasku untuk membelai komputerku yang mungkin sudah bosan melihat wajaahku yang sok serius ini selallu memandanginya dan menjadi saksi kesenangan, kesedihan dan perjuanganku dalam mengarungi masa ini. Mungkin dialah benda yang paling sering melihat wajahku di banding semua benda yang ada di sekeliling ku akhir-akhir ini. Mulai lagi dengan printer lq-800 ku yang selalu menghiburku dengan bunyi-bunyinya yang seakan menujukkan kepada dunia berapa banyak kerjaan yang kubuat( huhhh….. bunyi yang menyesakkan jiwa). Dan yang terlupa adalah teleponku tersayang sang penyambung hidupku dengan dunia luar sana yang hampir aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana . Untung dia ada dan menghiburkan sepanjang hari. Terima kasih kepada seluruh vendorku yang selalu menyapaku dengan nada tinggi dan bentakan-bentakan sayang. Teman-temanku tadi menemaniku sepanjang hari dengan saling bergantian mengisi kekosongan dan kecilnya duniaku ini. Untunglah teman-teman seperjuanganku dan jam
makan siang yang selalu memberikan jalan bagi ku untuk dapat tertawa bahagia dan bersyukur dengan apa yang kupunya.

Aha!…. Sudah jam 4! Waktu di mana perusahaan sudah mengasih permit untuk aku pulang dan menemui kehidupan ku yang lainnya.... but of courseee.... jam 6 adalah waktu yang paling sering aku gunakan sebagai start untuk pulang ke istanaku yang menunggu ku di sana. Kembali ke kemacetan yang menunjukkan kepada kita betapa bermacam-macamnya orang dengan penampilannya berjuang hanya untuk menuju rumahnya.

Ya begitulah hidup.... yang setiap hari kita jalani....sore ini aku mendobrak kebosanan ku dan menjalankan sepeda mudaku (sepeda tuakan hanya punya umar bakri) menuju pusat perbelanjaan di daerah ku yang sangat besar. Langkah pertama yang menarik mengantarku berkeliling mall sambil window shopping yang seakan-akan membawa ratusan juta rupiah di dompet untuk di belanjakan kesemua barang ( don’t laugh in front on me......qe qe qe qe qe). But at the end kaki ku tertuju ke Gunung Agung, sang jendela ilmu di muka bumi ini. Di tengah interest ku untuk mengetahui buku-buku baru aku membuka suatu buku yang membahas bagaimana mengelola bisnis restoran.

Wuahh..!! Dengan pedenya aku ambil buku itu dengan harapan untuk di bawa kekasir, dibayarkan dan di baca di rumah. Namun di tengah perjalanan aku ingat bahwa budget bulan ini untuk buku sudah habis, maka kuhentikan langkahku dan berbalik arah ketempat buku itu kuambil. Dan ku berdiri sejenak untuk memutuskan untuk apakah aku akan keliling dan melihat lihat judul buku lainnya atau berhenti dan membaca buku itu? Just to take the point.. Lembar demi lembar kubuka mulai dari bab satu yang memberitahukan orang-orang yang terkenal di dunia makanan, lalu bisnis makanan apa saja yang paling sering dilakukan, terus dan terus bahasan demi bahasan kubaca. Di tengah keasikan ku membaca, terngangahku melihat sebuah judul ”Now Or never”.

Wah... judul yang menarik. Make me so courious, untuk membelah isi artikel yang akan di ceritakan buku ini. Kata pertama yang dia keluarkan, kenapa anda bangga dengan diri anda sekarang. Wah... semakin tertantang diriku untuk membuka lembar selanjutnya. Next pagenya adalah, laporan keuangan yang secara gamblang dia paparkan. Lalu di situ dia menggambarkan, bahwa dia adalah pegawai dengan gaji 5 juta rupiah sebulan dengan keluarga yang memiliki anak satu, lalu dia menjabarkan:

Gajiku 5.000.000
Biaya Hidupku :
- Transportasiku 600.000
- Makan Ku 450.000
- Makan Keluargaku 1.200.000
- Kontrakan ku yang indah 750.000
- Biaya Anak Ku kedokter 250.000
- Biaya Sekolah Anakku 500.000
- Hiburan Untuk keluargaku 250.000
- Baju untukku dan keluarga 200.000
- Biaya Pemeliharaan Rumah ku 100.000
- biaya tak terduga 200.000
- Total Biaya (4.500.000)

Simpananku 500.000

Ha... ha dia tertawa.... apa yang ku kerjakan selama sebulan penuh selama dua belas bulan hanya untuk 6.000.000 ( 500.000 x 12 bulan ) ? Belum lagi ada satu dan lain hal yang mendesak yang membuat kita harus mengurangi uang yang kita tabungkan perbulan. Lalu apakah masih pantaskah kita membusungkan dada untuk membanggakan kita siapa? Lalu mencari dasi-dasi bagus untuk menempelkannya di dadaku yang terlalu busung yang menutupi pandangan mata kita terhadap perut kita yang terlalu buncit hingga malas berkembang dan menutupi kekurangan.

Di artikel ini dia menyentak apakah ini yang anda harapkan atas diri anda selama anda hidup? anda di lahirkan dengan sebegitu sempurnanya dengan berbagai keahlian hanya untuk mengabdi menjadi pegawai dan di berikan makan lalu hiburan 6 juta setahun.

Tidak anda tidak serendah itu, maka sekarang hargailah diri anda dan rubahlah mindset anda untuk tidak hanya menunggu orang yang menentukan gaji anda akan tetapi diri anda sendiri. Sekarang bukalah mata anda dan berubah. Ingat kalau tidak sekarang kapan lagi?

Kata-kata yang sangat menarik membuat saya terkagum dan terenyuh melihat dada saya yang masih terlalu busung dan menghalangi mata saya untuk melihat diri saya. Saya terlalu berbesar hati dan terlalu cepat puas dengan apa yang saya miliki sekarang. Sementara di sana ada segenggam emas yang menunggu saya untuk mengambilnya.

Setelah membaca itu saya lalu menutup buku itu dan melangkahkan kaki saya pulang, dan merasakan angin segar baru merasuk jiwa saya bahwa mulai besok saya akan menurunkan kebusungan dada saya, menurunkan kepala saya dan menjadi orang yang lebih baik lagi.

Mudah-mudahan pengalaman ini dapat juga menginspire anda untuk menghargai diri anda lebih dari yang bisa di hargai perusahaan atas diri anda yang begitu sempurna.
....................readmore